EconomyHeadlineNews

Menikmati Cerutu, Sebuah Seni dan Filosofi Hidup

478
×

Menikmati Cerutu, Sebuah Seni dan Filosofi Hidup

Share this article

Treninfo.id, Surabaya – Cerutu tetap mempertahankan tempatnya sebagai simbol eksklusivitas dan gaya hidup. Berbeda dengan rokok biasa, cerutu bukan untuk dikonsumsi secara terburu-buru. Ia dinikmati perlahan, dengan tahapan dan teknik tersendiri, layaknya sebuah seni yang membutuhkan kepekaan dan kesabaran.

Evan S, General Affair dari Damara Cigars & Tobacco, mengungkapkan bahwa menikmati cerutu bukan hanya soal membakar dan menghisap, tetapi menyangkut serangkaian ritual yang mencerminkan karakter dan kepribadian penikmatnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Cerutu memiliki bentuk dan ukuran yang jauh lebih besar dibanding rokok. Warnanya cokelat pekat, aromanya khas, dan proses produksinya pun rumit serta menggunakan bahan pilihan. Namun bukan hanya fisiknya yang istimewa, cara menikmatinya pun sangat berbeda.

“Cerutu itu personal. Bukan hanya tentang tembakau, tetapi tentang momen. Orang tidak menikmati cerutu saat terburu-buru. Cerutu dinikmati perlahan, seperti menikmati alunan musik klasik atau segelas wine berkualitas,” tutur Evan.

Adapun teknik menikmati cerutu, antara lain:

Pilih Cerutu yang Sesuai Karakter
Langkah pertama dalam menikmati cerutu adalah memahami jenis cerutu yang hendak dikonsumsi. Menurut Evan, penikmat harus tahu betul komposisi isi cerutu, apakah termasuk kategori strong (kuat) atau soft (ringan).
“Pilih cerutu yang sesuai dengan mood dan karakter kita. Jangan asal ambil hanya karena tampilannya menarik,” jelasnya.

Pemotongan: Awal dari Ritual
Sebelum dihisap, ujung cerutu yang akan dimasukkan ke mulut perlu dipotong menggunakan alat khusus bernama clipper. Pemotongan ini penting agar aliran asap dapat mengalir dengan baik tanpa merusak struktur tembakau di dalamnya.
Biasanya, hanya sekitar dua inchi dari ujung cerutu yang dipotong. Pemotongan dilakukan sesuai selera masing-masing, tetapi harus tetap presisi agar tidak merusak lapisan luar cerutu.

Read  Doa Lintas Agama Lapas Banyuwangi: Petugas dan Warga Binaan Bersatu

Seni Menyalakan Cerutu
Proses menyalakan cerutu juga tidak boleh asal. Evan menekankan bahwa api harus diarahkan ke bagian ujung cerutu secara merata dengan gerakan melingkar searah jarum jam.
“Ini penting agar cerutu terbakar sempurna. Kalau terbakar hanya sebagian, rasanya akan rusak. Cerutu yang terbakar dengan baik akan mengeluarkan aroma dan rasa terbaiknya,” tambahnya.
Bahkan, jenis korek api yang digunakan pun berbeda. Para penikmat cerutu biasanya menggunakan korek api gas butane, bukan korek bensin atau korek biasa. Hal ini karena api dari gas butane tidak mempengaruhi aroma cerutu.

Memegang Cerutu dengan Gaya
Berbeda dengan rokok yang bisa dipegang dengan berbagai gaya, memegang cerutu memiliki etika tersendiri. Cerutu sebaiknya dipegang di antara ibu jari dan jari telunjuk, dengan genggaman yang stabil namun elegan.
“Menariknya, dari cara orang memegang cerutu, kita bisa menebak karakternya. Apakah dia pemula, penikmat serius, atau hanya ikut tren. Ini semacam bahasa tubuh bagi para penikmat cerutu,” jelas Evan dengan tersenyum.

Menghisap Cerutu dengan Benar
Hal paling mendasar yang membedakan cerutu dengan rokok adalah: asap cerutu tidak dihirup hingga ke paru-paru. Cerutu dinikmati dengan cara membiarkan asapnya berada di dalam mulut selama beberapa detik, lalu dilepaskan perlahan.

“Cerutu bukan tentang menghisap nikotin, tapi merasakan sensasi rasa. Nikmatilah rasanya, aromanya, dan teksturnya di dalam mulut. Itu yang membedakannya dari rokok biasa,” tegasnya.
Hisapan ideal dilakukan setiap 30 detik hingga satu menit. Hal ini untuk menjaga agar cerutu tetap menyala dan tidak gosong di satu sisi. Cerutu yang baik bisa bertahan hingga 2–3 jam.
Setelah sekitar dua belas hisapan, ikat atau band cerutu biasanya akan terlepas dengan sendirinya akibat panas. Band ini sejatinya berfungsi melindungi lapisan tembakau agar tidak robek.

Read  Kolaborasi Dunia Akademik dan Industri: Mahasiswa UNAIR Sukses Pikat Klien Kasir Pintar

Sabar, Santai, dan Tidak Terburu-Buru
Bagi Evan dan banyak penikmat lainnya, cerutu paling ideal dinikmati setelah makan malam, biasanya sambil menyeruput segelas minuman beralkohol, seperti whiskey atau rum. Suasana santai bersama teman atau kolega membuat pengalaman menikmati cerutu menjadi semakin sempurna.
“Yang terpenting, jangan pernah terburu-buru. Cerutu itu dinikmati, bukan dikonsumsi. Kalau Anda menarik napas dalam-dalam seperti rokok, bukan kenikmatan yang Anda dapat, tapi batuk dan rasa tidak nyaman,” kata Evan sambil terkekeh.

Cerutu dan Gaya Hidup
Lebih dari sekadar tembakau, cerutu telah menjadi bagian dari gaya hidup yang menekankan pada kualitas, bukan kuantitas. Banyak orang yang mengasosiasikan cerutu dengan kekuatan, keanggunan, dan kematangan.

Bukan tanpa alasan, para tokoh dunia seperti Winston Churchill, Fidel Castro, hingga Arnold Schwarzenegger dikenal sebagai penikmat cerutu sejati. Mereka tidak hanya dikenal karena pencapaian politik atau kariernya, tetapi juga karena gaya hidup dan kepribadian mereka yang kuat, elegan, dan penuh prinsip karakteristik yang sejalan dengan filosofi di balik sebatang cerutu.

Menikmati cerutu adalah soal seni, bukan rutinitas. Ini adalah soal memahami, merasakan, dan menghargai proses. Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, seni menikmati cerutu menjadi bentuk pelarian, momen hening yang penuh makna. (mer)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News