HeadlineNews

Cahya Yudi Widianto Kembangkan MB-100, Biodiesel Nonfosil untuk Dukung Kemandirian Energi Nasional

340
×

Cahya Yudi Widianto Kembangkan MB-100, Biodiesel Nonfosil untuk Dukung Kemandirian Energi Nasional

Share this article

TRENINFO.ID – Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan tantangan memperkuat ketahanan pangan, inovasi di bidang energi terbarukan terus bermunculan. Salah satunya datang dari peneliti asal Madiun, Jawa Timur, Cahya Yudi Widianto, yang mengembangkan riset produksi biodiesel melalui teknologi bertajuk “De Novo & Ex Novo” untuk menghasilkan Marolis Biodiesel 100 (MB-100), bahan bakar diesel berbasis 100 persen nonfosil.

Penelitian tersebut diharapkan menjadi salah satu alternatif energi terbarukan yang mampu mendukung kemandirian energi Indonesia sekaligus memberikan manfaat bagi berbagai sektor strategis, khususnya pertanian dan industri.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Cahya menjelaskan, pengembangan teknologi tersebut merupakan hasil perjalanan penelitian yang telah ia lakukan selama lebih dari dua dekade. Berawal dari riset di bidang mikrobiologi, bakteri, dan enzim sejak 2003, penelitian kemudian berkembang menuju pemanfaatan sumber daya hayati sebagai solusi atas berbagai tantangan nasional, terutama di bidang energi dan pertanian.

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang sangat besar. Melalui penelitian ini, kami berupaya mengembangkan teknologi yang mampu memanfaatkan potensi tersebut menjadi bahan bakar alternatif yang lebih berkelanjutan, dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ujar Cahya.

Menurutnya, kebutuhan Indonesia terhadap energi alternatif semakin mendesak seiring meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil dan tuntutan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan. Karena itu, pengembangan biodiesel berbasis sumber daya nonfosil dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat bauran energi nasional.

Marolis Biodiesel 100 (MB-100) dirancang sebagai bahan bakar diesel alternatif yang memanfaatkan sumber daya nonfosil. Apabila telah melalui tahapan pengujian ilmiah, standardisasi, serta memperoleh persetujuan regulator sesuai ketentuan yang berlaku, teknologi tersebut berpotensi dimanfaatkan pada berbagai sektor yang masih bergantung pada mesin diesel, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, logistik, hingga industri.

Read  Pertamina NRE Bentuk Satgas RAFI 2026, Pastikan Operasional Energi Bersih Tetap Andal

Selain mendukung ketahanan energi, Cahya menilai inovasi tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Pasalnya, sektor pertanian Indonesia masih mengandalkan bahan bakar diesel untuk mengoperasikan traktor, pompa air, mesin panen, alat pengolahan hasil pertanian, hingga kendaraan distribusi hasil panen.

Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil membuat sektor pertanian rentan terhadap fluktuasi harga maupun gangguan pasokan energi. Kehadiran biodiesel alternatif seperti MB-100, apabila memenuhi standar mutu, keamanan, dan regulasi yang berlaku, diharapkan dapat membantu mendukung operasional alat dan mesin pertanian, memperlancar distribusi pupuk, memperkuat sistem logistik hasil panen, serta meningkatkan efisiensi rantai distribusi pangan.

“Ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan dua sektor yang saling berkaitan. Ketersediaan energi yang andal akan mendukung produktivitas pertanian, sementara sektor pertanian yang kuat menjadi fondasi bagi ketahanan pangan nasional,” jelasnya.

Cahya mengungkapkan, inspirasi dalam mengembangkan penelitian tidak hanya berasal dari kajian ilmiah modern, tetapi juga dari perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur’an yang dipahami sebagai dorongan untuk terus mengeksplorasi fenomena alam melalui pendekatan ilmiah.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi dasar dalam mengembangkan berbagai inovasi yang memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Meski demikian, Cahya menegaskan bahwa pengembangan teknologi biodiesel masih memerlukan proses panjang sebelum dapat diterapkan secara luas. Mulai dari pengujian laboratorium, validasi independen, sertifikasi, hingga pemenuhan seluruh ketentuan regulasi yang berlaku menjadi tahapan penting agar teknologi tersebut benar-benar aman, efektif, dan layak digunakan.

Karena itu, ia membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dunia usaha, hingga komunitas ilmiah untuk bersama-sama mengembangkan inovasi tersebut.

Read  Pemkot Surabaya Perpanjang Pendaftaran Beasiswa Pemuda Tangguh hingga 11 September 2025

“Kami berharap penelitian ini dapat terus dikaji, diuji, dan dikembangkan bersama berbagai pemangku kepentingan. Inovasi akan memberikan dampak yang lebih besar apabila dibangun melalui kolaborasi yang kuat,” kata Cahya.

Ke depan, penelitian mengenai produksi biodiesel melalui teknologi “De Novo & Ex Novo” diharapkan dapat terus berkembang melalui proses penelitian lanjutan, pengujian, evaluasi, dan penyempurnaan sesuai standar ilmiah maupun regulasi yang berlaku, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan energi sekaligus ketahanan pangan nasional. (DTZ)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News