TRENINFO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mempersiapkan kebangkitan program konversi sepeda motor konvensional berbasis BBM menjadi motor listrik pada 2027. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menekan emisi karbon sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah saat ini masih melakukan kajian menyeluruh terhadap desain program agar pelaksanaannya lebih efektif dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut Eniya, evaluasi dilakukan karena realisasi program konversi motor listrik hingga 2024 belum mampu memenuhi target yang telah ditetapkan.
“Lalu 2026 ini, ada program itu lagi. Nah, saya baru melakukan kajian kalau program ke depannya apakah masih dengan konsep yang sama dengan yang dulu atau tidak,” ujar Eniya, dikutip Rabu (8/7/2026).
Dalam menyusun formulasi baru, Ditjen EBTKE menggandeng berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Sains dan Teknologi, Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Survei dan Pengujian (BBSP) EBTKE, hingga kalangan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah mekanisme pemberian insentif kepada masyarakat. Pada program sebelumnya, pemerintah memberikan bantuan subsidi sebesar Rp10 juta untuk setiap unit motor yang dikonversi. Namun, biaya konversi rata-rata mencapai sekitar Rp15 juta sehingga pemilik kendaraan masih harus menanggung selisih biaya sekitar Rp5 juta.
Beban biaya tambahan tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat mengikuti program konversi motor listrik.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian ESDM sebelumnya juga menggandeng sektor swasta melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Skema ini memungkinkan perusahaan menanggung kekurangan biaya konversi sebesar Rp5 juta sehingga masyarakat dapat menikmati layanan konversi tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Sebagai bentuk apresiasi kepada perusahaan yang berpartisipasi, pemerintah memberikan insentif nonfiskal berupa tambahan poin dalam penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup.
“Dapat poin. Jadi ya mereka memberikan CSR itu,” kata Eniya.
Keseriusan pemerintah menghidupkan kembali program tersebut juga tercermin dari usulan anggaran yang telah disiapkan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengalokasikan pagu anggaran sebesar Rp635,24 miliar untuk mendukung program konversi motor listrik pada tahun anggaran 2027.
Meski demikian, Kementerian ESDM belum mengungkapkan target jumlah unit kendaraan yang akan dikonversi melalui anggaran tersebut.
Secara keseluruhan, Kementerian ESDM mengajukan pagu indikatif sebesar Rp27,33 triliun untuk tahun anggaran 2027. Nilai tersebut meningkat dibandingkan alokasi anggaran tahun 2026 yang mencapai Rp21,67 triliun.
Dari total anggaran tersebut, Direktorat Jenderal EBTKE memperoleh alokasi sebesar Rp1,81 triliun atau sekitar 6,6 persen. Selain program konversi motor listrik senilai Rp635,24 miliar, anggaran tersebut juga akan digunakan untuk program kompor listrik sebesar Rp815,6 miliar dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) senilai Rp58,58 miliar.
Sementara itu, porsi terbesar anggaran Kementerian ESDM masih dialokasikan kepada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) sebesar Rp11,33 triliun atau sekitar 41,4 persen. Dana tersebut diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur gas bumi, termasuk proyek Pipa Gas Dusem senilai Rp3,95 triliun dan pembangunan jaringan gas rumah tangga (jargas) sebesar Rp5,21 triliun.
Adapun Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan memperoleh pagu sebesar Rp10,46 triliun atau sekitar 38,3 persen. Sebagian besar anggaran tersebut, yakni Rp9,75 triliun, akan digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur kelistrikan melalui program Listrik Desa.
Melalui penyempurnaan regulasi, evaluasi skema insentif, serta dukungan anggaran yang lebih besar, pemerintah berharap program konversi motor listrik pada 2027 mampu menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik nasional. Selain mempercepat transisi energi, program ini juga diharapkan mampu menghadirkan solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan, ekonomis, dan mudah diakses masyarakat. (XRW)



