TRENINFO.ID – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), rekam jejak pengabdian H. Gudfan Arif Ghofur di lingkungan organisasi semakin banyak menjadi perhatian. Berbagai elemen Nahdliyin mulai menyuarakan dukungan agar Bendahara Umum PBNU itu masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
Perbincangan mengenai sosok-sosok yang layak memimpin PBNU periode mendatang semakin menguat menjelang Muktamar. Di tengah dinamika tersebut, nama H. Gudfan Arif Ghofur terus menjadi sorotan, baik di media massa maupun media sosial.
Narasi yang berkembang lebih banyak menyoroti perjalanan pengabdian Gudfan Arif di NU, mulai dari kiprahnya di badan otonom, pengalamannya sebagai Bendahara Umum PBNU, hingga kontribusinya dalam mendorong penguatan ekonomi umat dan pesantren.
Di berbagai platform digital, warga Nahdliyin juga mulai membagikan rekam jejak, gagasan, serta pandangan Gudfan Arif mengenai masa depan organisasi.
Dukungan tersebut muncul dari berbagai elemen NU yang berharap PBNU ke depan dipimpin figur yang memiliki pengalaman organisasi, kemampuan manajerial, dan komitmen terhadap penguatan jam’iyah.
Gus Gudfan sendiri pernah menolak sebenarnya saat diharapkan mampu menjadi nahkoda besar organisasi tertua di Nusantara ini. Kalimat yang menyatakan dia masih enggan untuk dicalonkan, kemudian justru yang banyak dikatakan oleh para sepuh dan para penghuni pondok merupakan yang paling bisa menjawab segala macam pertanyaan dalam kepala publik, yakni mengembalikan semua ke dasar, “Tak ngancani para santri ngaji ae aku ya”, kelakarnya waktu itu.
Salah satu sesepuh yang biasa kita lihat di sosial media, Gus Baha, juga mengatakan bahwa gelagat sebuah tolakan justru menjadi sebuah jawaban itulahyang membedakan, ucapan dari sumber dan puncak berdirinya NU ini, “hla wong dia putune”, pungkasnya.(*) (HNJ)



